End Line Study Proyek GRASS: Mendorong Pertanian Berkelanjutan bagi Petani Kecil di Kapuas Hulu

Peningkatan produktivitas pertanian tidak hanya bergantung pada hasil panen, tetapi juga pada kemampuan petani menghadapi berbagai tantangan seperti perubahan iklim, fluktuasi harga komoditas, serta serangan hama dan penyakit. Menjawab tantangan tersebut, GIZ bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian melaksanakan Proyek GRASS (Greening Agricultural Smallholder Supply Chains) sebagai upaya memperkuat ketahanan petani kecil melalui penerapan praktik pertanian yang berkelanjutan.

Proyek GRASS merupakan kelanjutan dari program Sustainable Agricultural Supply Chains in Indonesia (SASCI) yang sebelumnya telah dilaksanakan. Berbekal pengalaman dari proyek terdahulu, GRASS dijalankan selama periode Januari 2023 hingga Desember 2025 dengan fokus mendukung petani kecil tanaman perkebunan di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Fokus Pengembangan Komoditas

Program ini menyasar petani kecil yang mengelola berbagai komoditas perkebunan strategis, yaitu:

  • Karet
  • Kelapa sawit
  • Kakao
  • Kopi

Keempat komoditas tersebut memiliki peran penting dalam perekonomian daerah sekaligus menjadi bagian dari rantai pasok global yang membutuhkan praktik produksi yang lebih berkelanjutan.

Meningkatkan Ketahanan Petani

Salah satu tujuan utama proyek GRASS adalah meningkatkan ketahanan petani kecil terhadap berbagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi produktivitas maupun pendapatan mereka. Faktor-faktor tersebut meliputi:

  • Fluktuasi harga komoditas di pasar global.
  • Serangan hama dan penyakit tanaman.
  • Dampak perubahan iklim yang semakin meningkat.
  • Tantangan keberlanjutan dalam sistem produksi pertanian.

Untuk menjawab tantangan tersebut, proyek memberikan pendampingan serta penguatan kapasitas petani melalui berbagai pendekatan pertanian berkelanjutan.

Pendekatan Pertanian Berkelanjutan

Dalam pelaksanaannya, GRASS mendorong penerapan berbagai praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan sekaligus mampu meningkatkan produktivitas lahan. Beberapa pendekatan yang diperkenalkan meliputi:

  • Pertanian cerdas iklim (Climate Smart Agriculture)
  • Pertanian terpadu (Integrated Farming)
  • Agroforestri dan sistem tumpang sari
  • Permakultur
  • Pertanian regeneratif (Regenerative Agriculture)

Melalui pendekatan tersebut, petani diharapkan mampu menjaga produktivitas lahan dalam jangka panjang sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap perubahan kondisi lingkungan maupun ekonomi.

End Line Study oleh PT RASA Consulting

Sebagai bagian dari evaluasi proyek, PT RASA Consulting memperoleh mandat dari GIZ untuk melaksanakan End Line Study. Studi ini bertujuan memberikan gambaran menyeluruh mengenai capaian program setelah implementasi berlangsung.

Secara khusus, evaluasi dilakukan untuk:

  1. Menilai perubahan pengetahuan, sikap, praktik, dan kondisi para penerima manfaat.
  2. Memvalidasi pencapaian target proyek serta mengidentifikasi dampak yang muncul di luar perencanaan.
  3. Mengevaluasi relevansi, efektivitas, efisiensi, keberlanjutan, dan dampak program berdasarkan kerangka evaluasi OECD (2021).

Hasil evaluasi diharapkan menjadi dasar dalam penyempurnaan program pengembangan pertanian berkelanjutan pada masa mendatang.

Metodologi Penelitian

Untuk memperoleh hasil evaluasi yang komprehensif, PT RASA Consulting menggunakan kombinasi metode penelitian kuantitatif dan kualitatif.

Pendekatan kuantitatif digunakan untuk menghasilkan data yang terukur mengenai perubahan yang terjadi pada kelompok sasaran, sedangkan pendekatan kualitatif memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pengalaman, persepsi, dan faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan program.

Kombinasi kedua metode tersebut memungkinkan evaluasi tidak hanya menampilkan angka-angka statistik, tetapi juga menjelaskan cerita dan konteks di balik perubahan yang terjadi.

Pendekatan Before and After Comparison (BAC)

Dalam pelaksanaan evaluasi, PT RASA Consulting menerapkan pendekatan Before and After Comparison (BAC). Pendekatan ini membandingkan kondisi penerima manfaat sebelum dan sesudah mengikuti program sehingga perubahan yang terjadi dapat diidentifikasi secara lebih akurat.

Metode BAC dipilih karena mampu meminimalkan pengaruh faktor-faktor eksternal yang berpotensi menimbulkan bias, seperti:

  • Luas kepemilikan lahan.
  • Usia petani.
  • Tingkat pendidikan.
  • Jumlah anggota keluarga.

Selain meningkatkan akurasi analisis, pendekatan ini juga membuat proses pengumpulan data menjadi lebih efisien karena memanfaatkan basis data penerima manfaat yang telah tersedia melalui tim proyek maupun laporan pemantauan sebelumnya.

Penutup

Pelaksanaan End Line Study menjadi bagian penting dalam mengukur keberhasilan Proyek GRASS. Melalui evaluasi yang sistematis dan berbasis data, hasil studi diharapkan mampu memberikan rekomendasi strategis bagi pengembangan program pertanian berkelanjutan di Indonesia.

Tidak hanya menilai pencapaian target, evaluasi ini juga menjadi dasar untuk merancang intervensi yang lebih efektif dalam meningkatkan kesejahteraan petani kecil, memperkuat ketahanan sektor perkebunan, serta mendukung pembangunan rantai pasok pertanian yang lebih berkelanjutan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top